Little Mokushiroku v1 1-3

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

Aku sudah memejamkan mata, tapi tiba-tiba aku tahu bahwa cahaya itu telah lenyap, dan perasaan mengambang yang aneh telah hilang. Apakah ini berarti bahwa apapun yang terjadi sudah berakhir? Dengan takut aku membuka mata, aku kaget sekali. Aku telah kehilangan hitungan berapa kali itu telah terjadi padaku hari ini.

Aku pergi dari pesawat ruang angkasa futuristis ke sebuah ruangan besar yang tampak abad pertengahan yang terbuat dari batu. Ada hiasan yang rumit di mana-mana, dan karpet tebal tergeletak di lantai. Tapi karpet itu memotong tempatku berada, dan ternyata ada desain aneh dan rumit di lantai.

Ada sekelompok pria paruh baya dan tua dengan pakaian abad pertengahan, menatapku dari kejauhan. Apa yang terjadi di sini?

“Siapa itu?”

“Aku belum pernah melihat pakaian seperti miliknya.”

“Apakah berhasil?”

“Mustahil!”

“Tapi apa lagi yang bisa terjadi? Ini berhasil!”

“Tapi dia kelihatan cuma bocah biasa bagiku.”

“Pahlawan ya pahlawan, tidak peduli berapa usianya.”

“Tapi apakah dia benar-benar pahlawan?”

“Seorang pahlawan ...”

“Seorang pahlawan ...”

Apa yang mereka bisikkan? Aku mendengar sepatah kata yang biasanya kudengar di video game saja.

“Pahlawan!” Lalu terdengar teriakan keras, dan seorang gadis melompat ke pelukanku. Dia tampak berusia tiga belas atau empat belas tahun. Dia mengenakan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya, dan rambut pirang pucat menekan dadaku.

Gadis di pelukanku menatapku. Aku kaget melihat apa yang kulihat.

Ada banyak air mata di matanya.

“Hah? Kenapa kau menangis?”

“Pahlawan! Siapa namamu?” Gadis itu memotongku. Suaranya penuh energi. Dia tampak menangis karena gembira, bukan sedih. Hal itu sangat melegakan.

“Namaku Rekka Namidare , tapi ... di mana aku?” Aku menjawab pertanyaan gadis itu dan bertanya padaku sendiri.

“Rekka Namidare ... jadi nama pahlawan adalah Tuan Rekka!”

“Aku ... pahlawan?” Pahlawan? Kenapa aku jadi pahlawan? Dan dimana aku?! Tapi saat aku panik, kenyataan tanpa ampun diputuskan.

“Paduka! Pahlawan itu bilang namanya Rekka Namidare!”

“Huh? ‘Paduka’?”

Aku mengikuti tatapan gadis itu, dan ... itu dia. Pria paling megah yang pernah kulihat, duduk di atas singgasana besar yang mewah. Dia gemuk dan memakai mahkota. Begitulah seharusnya raja-raja terlihat!

“Jadi begitu! Lalu legenda keluarga kerajaan itu benar?” Raja terkesan karena suatu alasan, tapi aku sulit untuk terus mengikuti.

Bagaimanapun, aku merasa tidak enak.

“Pahlawan dari dunia lain! Tolong, kalahkan Maharaja Iblis yang mengancam Kerajaan Aburaamu dan selamatkan kami!”

Dan ada kalimat yang sudah kuduga. Makasih. Sekarang aku tahu persis apa yang sedang terjadi.

“Begitu. Jadi kali ini, kau sudah terperangkap dalam kisah pahlawan dan maharaja iblis, ya?”

Kelihatannya begitu. Aku sudah sibuk dengan penyihir(wizard) dan alien, dan sekarang aku dikirim ke dunia lain. Yang benar saja.

“Semoga beruntung.” Aku berada di ambang kehancuran, tapi R mengambang dengan lutut disilangkan, santai. Penderitaanku mungkin tidak berarti apa-apa baginya.

Tapi aku tidak bisa menjadi tidak peduli. Ada lebih dari seratus orang di sekelilingku, dan mereka terlihat sangat senang sehingga sedikit menakutkan. Mereka semakin dekat. Jika aku tidak hati-hati, mereka mungkin akan melompat ke atasku seperti yang telah dilakukan gadis itu. Salah satu dari mereka khususnya adalah seorang pria setengah baya dengan otot-otot yang beriak. Aku pasti tidak ingin dia melompat ke arahku.

“Harissa. Ada apa dengan sang pahlawan?” Raja mesti bertanya-tanya mengapa aku tidak mengatakan apapun, karena dia terlihat curiga saat dia bertanya kepada gadis itu.

Gadis itu — Harissa, namanya — wajahnya masih terkubur di dadaku. Dia menatapku. Matanya biru cerah.

“Pahlawan. Katakan sesuatu padaku.”

“Sesuatu? Apa tidak apa-apa?”

“Ya!”

“Baiklah ... tolong biarkan aku beristirahat sebentar. Kumohon.”
Load comments